Waktu kecil saya punya kebiasaan unik yaitu menerbangkan surat yang diikat pada sebuah balon gas yang bisa terbang ke langit bila dilepaskan. Surat-surat itu cukup sederhana dan jujur tentang apa yang saya rasakan untuk dibaca Tuhan ^^.
Seperti kebanyakan bocah SD, saya mengisi surat itu dengan cerita yang kekanak-kanakan. Sebuah surat pernah berisi tentang kemarahan saya sama kawan-kawan kelas yang dulu sering memanggil saya “Embe-Galing” (Bahasa Sunda yang artinya domba keriting) karena dulu rambut saya keriting tapi dipaksain model belah tengah (waktu itu lagi tren model rambut begini, apalagi sejak muncul tokoh Trunks di Dragon Ball :p).
Surat lain berisi kekesalan saya terhadap mama yang melarang saya bersepeda bersama kawan-kawan keliling kompleks buat berburu “harta karun” berupa buah kersen (buah ceri). Siapa paling banyak dapat buah dia menang, habis itu buahnya dibuang soalnya gak ada yang suka.
Ada juga surat yang berisi kesedihan saat saya gagal masuk Tim Khusus Olimpiade IPS, surat kebahagiaan saat saya akhirnya bisa bermain petak umpet dengan temen saya yang paling cantik di kelas (haha, namanya Mala, saya masih ingat. Apa kabarnya ya?). Sampai surat berisi ketakutan saya terhadap Hantu Mister Gepeng yang dulu mitosnya kalau kita ketok pintu WC tiga kali terus mundur tiga langkah, maju lagi tiga langkah terus ketuk lagi tiga kali maka si Mister bakal keluar dengan sosoknya yang seram, terus kami buru-buru kabur ke kelas, belum berani lihat sosok si Mister Gepeng yang sebenarnya gak pernah ada (konyol deh, betapa polosnya anak-anak SD ini ^^).
Ya, sejak kecil saya selalu menuliskan apa yang saya rasakan dalam sebuah surat. Entah itu rasa marah, kecewa, takut, senang, sedih, dan lainnya. Semua saya tuangkan dalam surat karena hanya itu yang bisa saya lakukan.
Guru sekolah minggu saya pernah bilang, “Menangislah atau tertawalah bersama Ayahmu di Langit, kirimkan saja surat pada-Nya. Ceritakanlah apa yang kau rasakan.”
Lalu, saya bertanya, “Bagaimana cara mengirimkan surat padaNya?”
Dia lalu menjawab (saya dulu tidak tahu kalau ini hanyalah candaan), “Kirimkan saja pakai balon gas, ikatkan suratmu di talinya lalu tulis di amplopnya: SURAT UNTUK TUHAN.”
Saya dengan polosnya mengangguk mengiyakan. Sejak itu saya selalu menulis surat untuk Tuhan, bercerita dengan bebas khas bocah SD, kadang hanya gambar atau komik buatan saya. Saya mengumpulkannya dan memasukannya ke dalam amplop putih. Kemudian saya menunggu tukang balon gas lewat tiap sore dan meminta mama membelikannya lalu mengikat amplop surat pada tali balon dan menerbangkannya.
Saya menatap kepergian balon surat itu menuju langit dan berharap Tuhan menerima dan membacanya. Saya membayangkan Dia ikut menangis dan tertawa saat membaca tulisan-tulisan saya. Saya selalu merasa aman dan terjaga karena saya memiliki seseorang yang selalu menunggu surat-surat saya. Saya percaya itu. Namun, kebiasaan ini hanya bertahan hingga kelas 5 SD. Saat kelas 6 SD kami pindah rumah ke tempat yang jarang dilewati tukang balon. Cukup sedih saat itu dan saya rindu menerbangkan surat untuk Tuhan.
Namun, dari sekian banyak surat yang saya tulis ada satu surat yang tidak pernah saya kirimkan pada Tuhan. Surat yang menurut saya, Tuhan tidak perlu tahu dan cukup saya saja yang tahu. Saya tidak mau terlalu merepotkan Tuhan karena surat ini mungkin akan membuat Tuhan tidak mau menerima surat saya lagi.
Beberapa waktu lalu saya menemukan jurnal harian saya saat SD. Membaca-bacanya dan menemukan surat itu tersimpan di dalamnya. Kertasnya sudah menguning namun saya masih dapat membaca tulisannya. Saya begitu terketuk dan menyadari betapa saya merindukan sosok saya saat kecil, si Franky Kecil. Dimana saya selalu merasa aman dan nyaman kapan pun dimana pun. Kau hanya perlu melakukan tugasmu dengan baik dan tidak perlu khawatir tentang apapun juga. Disanalah terdapat kunci kebahagiaan.
Ternyata benar, Allah begitu menyenangi anak-anak kecil karena mereka adalah pribadi-pribadi yang menyenangkan. Dengan kepolosannya akan mempercayai hidupnya pada orang-orang yang begitu mereka percayai seperti orang tua mereka. Mereka akan merasa aman dan terjaga dan setia menghibur orang tua mereka dengan tingkah laku mereka yang kekanakan, kadang lucu, kadang menyebalkan ^^.
Semakin dewasa, kita manusia terkadang selalu merasa hebat, merasa kita mampu untuk mandiri. Namun adakah manusia yang sungguh benar-benar mandiri? Jawabannya tentu tidak. Kita terkadang tidak mau terlalu mempercayai orang dan merasa kitalah yang paling benar. Justru disitulah letak kehampaan seseorang. Karena saya percaya bahwa hidup itu untuk berbagi, termasuk kisah hidupmu dengan segala ketulusanmu terhadap pribadi atau orang yang kau percayai. Mempercayai seseorang adalah anugerah kasih yang bisa kau miliki.
Saya kembali membuka surat tidak terkirim itu lalu membacanya sekali lagi.
Bandung, 11 Desember 2001
Tuhan, aku begitu membenci diriku sendiri sekarang. Semua menangis bertengkar karena aku kan? Apakah Kau akan membenciku juga ketika aku membenci diriku? Bukankah kau tidak suka bila aku punya sifat benci? Maka bencilah aku.
Saya tertawa kegelian ketika membaca surat itu lagi. Entah kenapa dulu surat ini bisa tertulis. Namun satu alasan yang membuat saya tidak pernah jadi mengirim dan menerbangkan surat itu adalah karena saya tidak pernah benar-benar membenci diri saya dan saya takut membuatNya kecewa dan menangis.
@frankyfebryan ~05082011Share
















