Me, MySelf, and I

Foto Saya
Ketika aku bertanya tentang kehidupan terkadang aku dapati saat aku mulai membuka mata, membuka hati dan membuka telinga. Dan terkadang tampungan khayalku bersandar pada imaji urban yang membuatku insomnia. Mencoba berjalan. Menikmati hidup, masa muda, apa adanya. Menjadi aku dan kamu melihat adanya aku. Eksistensi dinamika rebelius positively. Let's share, Pals... Enjoy together...

My Micro Blog (Twittwitan)

Jumat, 05 Agustus 2011

Surat untuk Ayah di Langit

Waktu kecil saya punya kebiasaan unik yaitu menerbangkan surat yang diikat pada sebuah balon gas yang bisa terbang ke langit bila dilepaskan. Surat-surat itu cukup sederhana dan jujur tentang apa yang saya rasakan untuk dibaca Tuhan ^^.

Seperti kebanyakan bocah SD, saya mengisi surat itu dengan cerita yang kekanak-kanakan. Sebuah surat pernah berisi tentang kemarahan saya sama kawan-kawan kelas yang dulu sering memanggil saya “Embe-Galing” (Bahasa Sunda yang artinya domba keriting) karena dulu rambut saya keriting tapi dipaksain model belah tengah (waktu itu lagi tren model rambut begini, apalagi sejak muncul tokoh Trunks di Dragon Ball :p).

Surat lain berisi kekesalan saya terhadap mama yang melarang saya bersepeda bersama kawan-kawan keliling kompleks buat berburu “harta karun” berupa buah kersen (buah ceri).  Siapa paling banyak dapat buah dia menang, habis itu buahnya dibuang soalnya gak ada yang suka.

Ada juga  surat yang berisi kesedihan saat saya gagal masuk Tim Khusus Olimpiade IPS, surat kebahagiaan saat saya akhirnya bisa bermain petak umpet dengan temen saya yang paling cantik di kelas (haha, namanya Mala, saya masih ingat. Apa kabarnya ya?). Sampai surat berisi ketakutan saya terhadap Hantu Mister Gepeng yang dulu mitosnya kalau kita ketok pintu WC tiga kali terus mundur tiga langkah, maju lagi tiga langkah terus ketuk lagi tiga kali maka si Mister bakal keluar dengan sosoknya yang seram, terus kami buru-buru kabur ke kelas, belum berani lihat sosok si Mister Gepeng yang sebenarnya gak pernah ada (konyol deh, betapa polosnya anak-anak SD ini ^^).

Ya, sejak kecil saya selalu menuliskan apa yang saya rasakan dalam sebuah surat. Entah itu rasa marah, kecewa, takut, senang, sedih, dan lainnya. Semua saya tuangkan dalam surat karena hanya itu yang bisa saya lakukan.

Guru sekolah minggu saya pernah bilang, “Menangislah atau tertawalah bersama Ayahmu di Langit, kirimkan saja surat pada-Nya. Ceritakanlah apa yang kau rasakan.”

Lalu, saya bertanya, “Bagaimana cara mengirimkan surat padaNya?”

Dia lalu menjawab (saya dulu tidak tahu kalau ini hanyalah candaan), “Kirimkan saja pakai balon gas, ikatkan suratmu di talinya lalu tulis di amplopnya: SURAT UNTUK TUHAN.”

Saya dengan polosnya mengangguk mengiyakan. Sejak itu saya selalu menulis surat untuk Tuhan, bercerita dengan bebas khas bocah SD, kadang hanya gambar atau komik buatan saya. Saya mengumpulkannya dan memasukannya ke dalam amplop putih. Kemudian saya menunggu tukang balon gas lewat tiap sore dan meminta mama membelikannya lalu mengikat amplop surat pada tali balon dan menerbangkannya.

Saya menatap kepergian balon surat itu menuju langit dan berharap Tuhan menerima dan membacanya. Saya membayangkan Dia ikut menangis dan tertawa saat membaca tulisan-tulisan saya. Saya selalu merasa aman dan terjaga karena saya memiliki seseorang yang selalu menunggu surat-surat saya. Saya percaya itu. Namun, kebiasaan ini hanya bertahan hingga kelas 5 SD. Saat kelas 6 SD kami pindah rumah ke tempat yang jarang dilewati tukang balon. Cukup sedih saat itu dan saya rindu menerbangkan surat untuk Tuhan.

Namun, dari sekian banyak surat yang saya tulis ada satu surat yang tidak pernah saya kirimkan pada Tuhan. Surat yang menurut saya, Tuhan tidak perlu tahu dan cukup saya saja yang tahu. Saya tidak mau terlalu merepotkan Tuhan karena surat ini mungkin akan membuat Tuhan tidak mau menerima surat saya lagi.

Beberapa waktu lalu saya menemukan jurnal harian saya saat SD. Membaca-bacanya dan menemukan surat itu tersimpan di dalamnya. Kertasnya sudah menguning namun saya masih dapat membaca tulisannya. Saya begitu terketuk dan menyadari betapa saya merindukan sosok saya saat kecil, si Franky Kecil. Dimana saya selalu merasa aman dan nyaman kapan pun dimana pun. Kau hanya perlu melakukan tugasmu dengan baik dan tidak perlu khawatir tentang apapun juga. Disanalah terdapat kunci kebahagiaan.

Ternyata benar, Allah begitu menyenangi anak-anak kecil karena mereka adalah pribadi-pribadi yang menyenangkan. Dengan kepolosannya akan mempercayai hidupnya pada orang-orang yang begitu mereka percayai seperti orang tua mereka. Mereka akan merasa aman dan terjaga dan setia menghibur orang tua mereka dengan tingkah laku mereka yang kekanakan, kadang lucu, kadang menyebalkan ^^.

Semakin dewasa, kita manusia terkadang selalu merasa hebat, merasa kita mampu untuk mandiri. Namun adakah manusia yang sungguh benar-benar mandiri? Jawabannya tentu tidak. Kita terkadang tidak mau terlalu mempercayai orang dan merasa kitalah yang paling benar. Justru disitulah letak kehampaan seseorang. Karena saya percaya bahwa hidup itu untuk berbagi, termasuk kisah hidupmu dengan segala ketulusanmu terhadap pribadi atau orang yang kau percayai. Mempercayai seseorang adalah anugerah kasih yang bisa kau miliki.

Saya kembali membuka surat tidak terkirim itu lalu membacanya sekali lagi.

Bandung, 11 Desember 2001

Tuhan, aku begitu membenci diriku sendiri sekarang. Semua menangis bertengkar karena aku kan? Apakah Kau akan membenciku juga ketika aku membenci diriku? Bukankah kau tidak suka bila aku punya sifat benci? Maka bencilah aku.

Saya tertawa kegelian ketika membaca surat itu lagi. Entah kenapa dulu surat ini bisa tertulis. Namun  satu alasan yang membuat saya tidak pernah jadi mengirim dan menerbangkan surat itu adalah karena saya tidak pernah benar-benar membenci diri saya dan saya takut membuatNya kecewa dan menangis.

@frankyfebryan ~05082011
Share

Selasa, 02 Agustus 2011

Kasih (bagi saya ini adalah jawaban doa)

Pada suatu hari aku berdoa kepada Tuhanku dan meminta seorang sahabat pada-Nya. Tak lama kemudian, Tuhan sungguh menjawab doaku. Semua begitu indah adanya, hingga aku menjadi terlena...

Ada suatu waktu dimana aku sungguh membutuhkan seorang sahabat, namun ia tak menunjukkan kehadirannya untuk menemaniku. Saat aku begitu lelah menghapus lelehan air mata yang terus mengalir ini, ia tak pernah ada di sana untuk membantuku menghapus air mata. Saat hatiku terasa berkeping, aku merasa ia meninggalkanku dan membiarkanku seorang diri di sana. Aku kembali menghadap Tuhanku dan bertanya,
"Tuhan, aku meminta seorang sahabat dalam hidupku, aku tahu kalau Engkau sungguh telah meletakkannya di dalam hidupku, namun entah mengapa aku merasa tetap hidup dalam kesendirianku."

Tuhan menjawab, "Aku tahu yang terbaik untukmu. Kau harus belajar untuk tidak selalu bersandar padanya. Andalkanlah Aku akan segala sesuatunya. Sahabat yang kuhadirkan untukmu adalah seseorang yang sesuai dengan kebutuhanmu. Ia adalah seseorang yang mampu menjadi sebuah inspirasi dan semangat dalam hidupmu, bukan untuk menjadi bayanganmu."

"Tuhan, bagaimana ia dapat menjadi inspirasi dan semangat bagi hidupku? Saat aku menitikkan air mata, jauh di sana kulihat ia tengah tertawa dan bergembira."

"Anak-Ku, apa yang kelihatan dari luar tidak selalu sama seperti apa yang ada di dalam. Apakah kau tahu saat kau menangis, jauh di hatinya ia pun tengah menangis dan berduka bersamamu? Ia mungkin tak menunjukkannya padamu hanya karena ia tidak mau kau semakin berduka dan terus mengasihani dirimu."

"Tuhan, aku masih tak mengerti! Sahabat macam apakah yang kau sediakan bagiku kalau saat hatiku begitu hancur, ia malah meninggalkan aku?"

"Tak mengertikah engkau anak-Ku, seperti yang telah Kukatakan bagimu, andalkanlah Aku dalam setiap perkara. Akulah sahabatmu yang takkan pernah meninggalkan engkau."

"Aku tahu Tuhan, namun aku hanya seonggok manusia. Aku memang membutuhkan Engkau, namun ada saat dimana aku juga membutuhkan satu sosok untuk menjadi teman dan sahabat yang serta peduli padaku. Aku membutuhkannya untuk menemaniku."

"Ho... ho... ho... anak-Ku, engkau sungguh manja dan keras kepala. Baiklah... Aku akan memuaskanmu atas pertanyaanmu tersebut."

"Terima kasih Tuhan... Aku siap mendengarkan."

"Aku menghadirkan ia ke dalam hidupmu sebagai sahabat terbaikmu. Bukan untuk membuatmu selalu tersenyum, namun untuk melegakan hatimu. Bukan untuk menghapus air matamu, namun untuk memeluk dan merangkulmu. Aku selalu memberikan lebih dari apa yang kau butuhkan, namun seringkali kau tak dapat menerima dan mensyukurinya. Saat ini ia Kuhadapkan dalam hidupmu bukan untuk memperbaiki luka hatimu, namun untuk membantumu menjadi dewasa. Ia tidak mampu mengembalikan hatimu sebagaimana semula, namun ia mampu membantumu mengurangi pedih itu.

Anak-Ku, tahukah kau saat hatimu menjerit karena pedih, luka, egoisme serta rasa terkalahkan, ia selalu datang kepada-Ku. Ia berdoa bagimu memohon Aku agar berkenan menjamah hatimu, agar luka hatimu boleh disembuhkan. Ingatkah engkau saat ia memintamu berdoa dan terus memuji Tuhan? Ingatkah engkau saat ia begitu banyak menasihatimu dengan kasih? Ingatkah engkau saat kau berada jauh darinya, ia tetap berusaha menguatkanmu? Tahukah engkau kalau ia selalu menemanimu dalam doanya?

Apakah ia tidak cukup sempurna untuk menjadi sahabatmu, padahal apa yang telah engkau lakukan baginya? Engkau selalu mengeluh anak-Ku. Masih ingatkah engkau betapa menyesalnya dirimu saat seorang sahabat berlalu dari hidupmu? Masih tidak bersyukurkah engkau atas apa yang telah Kusediakan bagimu hari ini?

Hargailah setiap hal yang kau miliki, jangan meminta lebih dari apa yang sanggup kau lakukan. Syukurilah atas seorang sahabat yang telah Kuberikan bagimu ini. Aku memberimu hadiah indah itu agar setiap harinya kau menjadi seseorang yang lebih baik. Anak-Ku, jangan sampai engkau kembali menyesal kalau engkau Kuajak untuk mencari sahabat lain yang mungkin akan terus membuatmu mengeluh kepada-Ku."

Sumber : jawaban.com Share

Rabu, 06 Juli 2011

Belajar dari Kontrasnya Kehidupan Pulau Samosir

Masa liburan yang cukup panjang kali sebaiknya diisi dengan kegiatan yang positif dan bermakna. Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial (KDAS), salah satu organisasi eksternal Universitas Sumatera Utara (USU), pada tanggal 19 – 22 Juni lalu yang mengadakan kegiatan Cross Country and Live In (lintas alam dan tinggal bersama warga desa) ke beberapa daerah di Kabupaten Samosir, yaitu Tele - Pangururan - Sagala. Terletak di sebuah pulau yang terletak di tengah Danau Toba, Pulau Samosir.

Menilik sisi lain dari kehidupan dan peradaban modern yang nyatanya telah membuat sebagian besar kaum muda termasuk mahasiswa terlena dan melupakan hal yang paling esensial dalam hidup ini, kiranya itulah yang membuat KDAS mengambil sebuah keputusan, mengangkat tas, dan pergi menjelajahi alam Toba Samosir yang terletak di Povinsi Sumatera Utara.

Cross Country, demikian sebutan untuk sebuah perjalanan yang sangat berkesan ini. Rombongan perjalanan terdiri dari 19 orang mahasiswa dari berbagai jurusan seperti Fakultas Kesehatan Masyarakat, FISIP, Fakultas Ilmu Budaya, dan Fakultas Hukum USU. Kegiatan ini bertemakan Rakyat, Alam, dan Keterpurukan.

Perjalanan dimulai dengan menumpangi sebuah bus dari kota Medan pada pukul 09.00 WIB menuju Sektor Tele. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam, bus yang kami tumpangi pun berhenti pada pukul 16.00 WIB. Namun, perjalanan ini belum berakhir. Perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Berjalan Kaki

            Untuk sampai ke daerah tujuan kami yang pertama, yaitu Kecamatan Pangururan, kami masih harus berjalan kaki selama 7 jam. Udara dingin yang diiringi hujan rintik-rintik tidak mengurangi semangat para peserta. Fasilitas jalan raya memang sudah ada, akan tetapi memutuskan berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan, menurut kami  bukanlah satu hal yang bodoh dan sia - sia.

            Berjalan kaki membuat kami memiliki ruang yang lebih besar untuk berbicara dengan alam. Merenung, berfilsafat, dan mengagumi betapa mengagumkan alam ciptaan Yang Maha Esa. Keletihan kami seperti tidak ada artinya ketika kami melihat bentangan alam danau Toba di sepanjang perjalanan. Kehijauan yang juga sudah sangat jarang ditemui di Medan.

            Hari kedua perjalanan dilanjutkan kembali menyisir Danau Toba menuju Sagala tepatnya ke Desa Silalahi Sosor. Rasa kecewa juga melanda kami, ketika danau yang dari ketinggian terlihat begitu indah dan mengagumkan ternyata ditumbuhi oleh eceng gondok yang merupakan sebuah indikator perairan yang sudah mengalami euterofikasi, pertanda bahwa telah terjadi pencemaran lingkungan. Pinggiran danau pun dipenuhi sampah, bahkan ada bagian pinggiran danau dimana kita dapat berdiri di atasnya. Tumpukan sampah tersebut sepertinya sudah membentuk daratan baru. Miris sekali.

Ada banyak hal yang dapat kami peroleh dari berjalan kaki selama dua hari. Berjalan kaki membuat kami mendapatkan beberapa nilai dari kehidupan ini yang telah lama terlupakan. Nilai perjuangan yang semakin memudar di hati kami. Kemudahan hidup dan budaya serba instant akibat perkembangan teknologi dan kemajuan zaman terkadang membuat kami lupa akan perlunya berjuang untuk menggapai sesuatu. Menggapai cita-cita dan masa depan kami.

Analisis Sosial

            Setelah beristirahat semalaman, kegiatan pun dilanjutkan kembali. Berbeda dengan dua hari sebelumnya, pada hari ketiga ini kami tidak lagi berjalan kaki ke daerah lainnya. Kami menetap di Desa Silalahi Sosor dan melanjutkan kegiatan dengan melakukan analisis sosial seputar desa tersebut. Seperti namanya, peserta diajak untuk menganalisis berbagai permasalahan sosial yang ada di dalam kehidupan penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai petani. 

Rombongan pun dibagi dalam kelompok kecil yang beranggotakan tiga orang dan tiap kelompok bebas menyusuri desa tersebut, menganalisis segala permasalahan yang ada. Kebanyakan kelompok memutuskan turun ke sawah membantu para petani yang sedang memanen hasil padinya, karena kami datang bertepatan dengan waktu panen.

Para peserta pun bertukar cerita dengan petani, menggali sisi kehidupan para petani. Sungguh sangat disayangkan, negara agraris seperti Indonesia belum mampu menyejahterahkan para petaninya. Hal ini terlihat dari cerita mereka yang kerap kali mengeluh tentang sistem yang tidak memihak pada kemakmuran mereka. Harga pupuk yang mahal sebagai salah satu contohnya. Belum lagi tengkulak yang sering merugikan mereka. Secara umum petani sudah sadar akan keterpurukan mereka yang diakibatkan sistem, namun mereka tak punya daya untuk melawan. Asal keluarga mereka cukup makan, sudah cukup bagi mereka. Tidak berdaya di tengah kelimpahan. Terjadi kemiskinan struktural disini. Masyarakat miskin karena kurang optimalnya kebijakan maupun sistem dan struktur yang ada.

Kompleksitas masalah sosial pun begitu terasa dimana masalah kekerasan dalam rumah tangga, anak terlantar, dan kesetaraan jender ternyata tidak hanya masalah masyarakat kota. Namun juga masalah masyarakat desa. Begitu pula dengan masalah kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itulah kami berusaha menganalisis dan membuat rekomendasi solusi sesuai dengan keilmuan kami masing-masing.

Menjadi Guru

Hari terakhir, beberapa perwakilan peserta yang memiliki minat di bidang pendidikan dan kesejahteraan anak melanjutkan analisis serta kunjungan ke sebuah sekolah yaitu SDN 174602 Desa Sagala. Kami meminta waktu untuk mengajar di sekolah tersebut, berbagi ilmu dan pengalaman kepada adik-adik. 

Sedikit sekali murid yang ada disana. Rata-rata satu kelas hanya terdiri dari 8 orang anak. Padahal jumlah daya tampung mencapai kisaran 15 orang. Sebagian yang tidak masuk karena memilih bekerja di ladang bersama orang tuanya. Senang sekali saat melihat mereka menyambut kedatangan kami dengan senyum tulus, polos, malu-malu khas anak SD. Semangat mereka berkobar setiap mendengarkan kami berbicara. Konsentrasi mereka begitu luar biasa. Kami memberi motivasi mengenai cita-cita, proses belajar yang efektif, hingga unjuk bakat. Banyak sekali yang berbakat walaupun masih ada beberapa di antara mereka yang ketika ditanyai mengenai cita-cita menjawab ingin menjadi supir. Lebih miris lagi ketika ada yang tidak tahu bagaimana kehidupan kota serta dimana itu Jakarta. Hal ini bisa dimaklumi karena, sebagian besar di antara mereka belum pernah keluar dari desa mengingat akses keluar masuk desa ini pun cukup sulit dan terbatas.

Sungguh miris hati kami melihat semangat belajar yang tinggi dari para murid tidak diimbangi dengan sarana, prasarana, serta tenaga didik yang memadai. Sebuah kenyataan yang patut kita refleksikan bersama. Namun, bagi kami tidak cukup untuk berefleksi saja, memberi kontribusi lanjutan untuk melakukan perubahan itulah yang terpenting. Mari bersama-sama menjadi agen perubah sosial.

Penulis: Franky Febryanto Banfatin (Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP USU)
             Eonike Friska Simatupang (Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM USU)
             Siska Verawati (Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM USU)

Tulisan ini dimuat di Kompas Kampus, Edisi Selasa, 5 Juli 2011
Share

Sabtu, 12 Maret 2011

Kenangan Tulang

Sudah hampir dua minggu setelah kepergian Tulang Doni (paman dalam bahasa batak). Saya tidak pernah menyangka akan secepat ini. Padahal baru akhir tahun lalu dia memberi alasan untuk “hidup”. Pernah terpikir di pikiran saya mengapa harus dia, seharusnya kan saya.

KENANGAN

Dari semua tulang saya (yang saya tahu) yang jumlahnya 6 orang. Dialah yang paling pendiam. Setiap kali saya datang berlibur ke rumah opung (nenek) dia selalu menyambut hanya dengan senyuman kecil dan pelukan hangat. Itu sudah cukup membuat saya senang. Saya (Franky kecil) dulu juga hanyalah seorang anak yang pendiam. Pemalu, yang setelah dewasa saya menyadari bahwa itu adalah rasa rendah diri. Tulang saya tahu itu. Saat pagi dia membangunkan saya lalu mengajak saya berolahraga berkeliling Gedung Nasional, sebuah gedung adat yang berada tepat di depan kediaman opung. Diam, tanpa kata-kata. Ketika saya terlihat lelah dia bertanya, “Masih kuat?”. Saya menjawab sambil terengah-engah, “Masih. Kuat!” Dia pun tertawa kecil karena tahu saya berbohong. Lalu saya digendong pulang.

Tidak banyak percakapan. Keluarga kami mengatakan kami memiliki karakter ‘diam’ yang sama. Walau pendiam namun saya jarang menangis (berbeda dengan adik saya). Saya menangis hanya saat saya benar-benar merasa gagal dalam suatu hal yang saya anggap penting. Itupun menangis dalam diam. Tidak perlu semua orang tahu saya menangis. Namun dia tahu. Hari itu, saya sudah kelas 5 SD. Saya gagal menjadi perwakilan sekolah untuk Olimpiade IPS tingkat provinsi padahal saya sudah berlatih selama setahun, hanya karena selisih 1 poin dengan teman dekat saya. Alhasil saya dipindahkan ke dalam Olimpiade Seni. Itupun hanya lulus hingga babak kota. Di depan orang saya tampak tegar, tapi saya saat itu merasa rapuh di dalam. Kerapuhan ini terbawa hingga liburan. Tulang mengetahuinya mungkin dari mama. Tetap dalam diam, dia mengajak saya bermain bola basket. Sekarang saya mengerti maksudnya saat itu, “Luapkanlah emosi secara positif. Jangan diam. Aktiflah. Hidup itu menyenangkan. Pasang target, masukan bola ke dalam keranjang. Bila belum, terus berusahalah hingga bola itu masuk.”

Saya masih ingat senyumnya. Walaupun ketika beranjak dewasa, saya tak sediam dulu namun dia tetap pendiam. Ketika berjumpa, dia hanya bertanya apa kabar. Bagaimana kehidupan. Hanya itu. Tak ada lagi pelukan, gendongan. Hanya ada tepukan pundak sebagai tanda penyemangat. Ya, karena kita sudah sama-sama dewasa. Setelah pindah dari Sibolga dan berkeluarga serta tinggal di Pak-Pak Bharat, dia selalu menyuruh saya berkunjung. Namun saya tak pernah sempat.

Dan saya baru sempat berkunjung akhir tahun lalu, dimana saya bisa kembali mengobrol sangat panjang bersama dia. Seperti sebuah tanda perpisahan bahwa dia akan pergi.

SENTUHAN PUNDAK TERAKHIR

Setelah malam natal, tulang memanggil saya ke rumahnya. Karena liburan saya menyempatkan datang bersama mama. Rumah yang hangat. Saya datang disambut dengan keceriaan tiga sepupu saya. Doni, Rey, dan Mira. Tulang menyambut dengan diamnya yang khas namun tetap hangat.

Malam sudah larut. Semua sudah tidur. Di ruang TV, saya masih belum tertidur dan tulang masih bersama saya sedikit bercerita. Tetap diam namun akhirnya percakapan yang ternyata akan menjadi percakapan panjang terakhir bagi saya.

Tulang (T) : Bagaimana kuliahmu?

Saya (S): Puji Tuhan, lancar tulang.


T: Kesehatanmu?

S: Masih penyembuhan.

T: Jangan terlalu sibuk, bere.


S: Iya tulang.

T: Kasihan mamamu, kasihani dirimu.
Saya tidak melanjutkan komentar, hanya mengangguk kecil. Dan suasana kembali hening cukup lama. Di depan dia, saya selalu kembali menjadi Franky kecil yang diam. Entah kenapa.

T: Mamamu sudah cerita sama tulang. Dia bukannya tidak peduli, tapi dia tidak terlalu mengerti masalah anak remaja laki-laki. Kalau kau mau cerita, ceritalah sama tulang. Diam bukan berarti tidak peduli. Jangan kau selalu berpikir seperti itu.


S: Aku takut bikin dia khawatir tulang.

T: Itulah kau, kalau kau diam justru kau yang bikin khawatir orang. Turunkan dulu sedikit gengsimu itu, Jangan sok-sok merasa kuat. Kau kan bukan anak kecil lagi. Jangan menyendiri aja kerjamu. Ini bukan Bandung. Belajar keras dululah kau di Sumatera ini.

Baru kali ini tulang berbicara dengan nada tegas dan panjang. Saya tertegun.

T: Anggaplah kau dipersiapkan untuk sesuatu yang besar di depan sana, bere. Disini kau belajar dewasa dulu.

S: Ya, tulang.

T: Berkawanlah baik-baik, jangan kau selalu merasa rendah diri. Tuhan memberi talenta luar biasa samamu. Pakailah itu. Jangan kau simpan sendiri. Perbanyaklah sahabatmu. Sering-seringlah menolong. Belajar, jangan main saja.

Malam itu banyak sekali pesan yang tulang sampaikan, tapi saya merasa mengantuk. Andai saja saya tahu itu pesan terakhir, saya akan mendengar dengan baik.

Pagi harinya setelah memancing dan makan bersama. Secara pribadi tulang mengajak saya bercerita dan kali ini lebih serius. Dari perbincangan inilah saya kemudian meneteskan sedikit air mata di depannya, untuk pertama kali sebagai pria dewasa.

Tulang:
Kau tahu, aku begitu menyayangimu, mamamu, dan adikmu. Aku tahu mamamu seperti apa. Tenanglah, dia seorang wanita yang kuat. Sangat kuat, lebih dari yang kau kira. Kau beruntung memilikinya, maka jagalah adik kesayanganku itu. Jangan kau lihat kelemahannya, tapi kelebihannya. Kami memang kaku. Tapi kami peduli. Jangan khawatir.


Aku tahu kesedihanmu, saat kau memilih masuk kamar saat kecil saat itulah aku datang namun kau pura-pura tidur dan aku berbaring di sebelahmu. Sebenarnya, saat itu aku sangat ingin mendengarmu bercerita. Ceritakanlah, aku sangat ingin mendengar. Namun, kau tetap diam.


Bersahabatlah dengan dirimu sendiri. Kau terlalu sering menyalahkan dirimu sendiri. Bukankah itu sakit? Jangan kau pendam, utarakanlah. Kalau kau malu, ingatlah pesanku saat kau kecil, datanglah ke lapangan, tendanglah bola, lemparkan bola, tulis atau gambarlah perasaanmu dalam kertas kosong.


Aku dulu sepertimu, sampai-sampai opungmu selalu memarahiku, bahkan mamamu yang selalu di sampingku mau ikut dimarahi padahal dia tidak salah apa-apa. Dia selalu membelaku hingga sekarang. Dia percaya aku. Dan sekarang dia punya harapan dan kepercayaan besar samamu. Aku pun begitu. Aku bisa diposisiku sekarang, kau pun pasti mampu.


Kau boleh marah dengan kehidupan yang kau rasa tidak adil, tapi jangan kau lari dari Tuhan. Sempat kemarin kudengar kau berulah, itu membuatku sedih, takut kau lari dan jatuh. Aku ingin memarahimu tapi aku takut kau semakin mendiamkan diri.
Aku bangga dengan pencapaianmu sejauh ini. Kau bukan anak kecil lagi sekarang, kau sudah menjadi pria dewasa. Jadilah orang hebat, pelayanNya yang setia. Jadilah abang yang baik buat adik-adikmu itu. Aku minta kau ajari mereka ya, bere. Jaga mereka.

Aku menunduk saat dia menepuk pundakku, lalu tersenyum, tanda pemberian semangat yang terakhir.

Share

Jumat, 25 Februari 2011

Bunyi Sunyi

Sebuah Cerita Pendek
Oleh : Franky Febryanto Banfatin*



Rumah, Jam Lima Pagi

Sepi. Tidak ada orang di rumah. Padahal ini masih jam lima pagi. Mama tidak ada di dapur ataupun di halaman rumah seperti biasa. Ayah tidak ada di ruang tengah. Tidak ada kopi, koran, tv tidak menyala. Aku berjinjit ke dalam kamar Mas Aryo, kakakku. Kamarnya kosong. Hanya ada tumpukan sampah makanan ringan, majalah, dan pakaian dalam. Batang hidungnya tak nampak. Ajaib sekali dia sudah terbangun sepagi ini. Tak seperti biasanya.

Aku melihat kalender. Hari senin, bukan hari minggu. Kulihat tanggal dan bulannya. Pun bukan tanggal kelahiranku. Kalau mereka mau memberi kejutan, ya, aku akan terkejut konyol karena aku tidak sedang berulang tahun. Aneh. Sudahlah aku mandi saja. Hari ini ingin cepat-cepat bertemu Karin.

Kampus, Jam Delapan Pagi

Aku tersenyum sendiri membayangkan reaksi Karin saat menerima cokelatku nanti. Aku seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Tapi, aku tampak seperti pemuda tolol pagi ini. Berjalan sambil bersiul-bersiul. Tersenyum-senyum. Tampak sangat autis. Apabila ada mahasiswa yang dibunuh di sampingku oleh seorang perampok, mungkin aku tidak akan meyadarinya. Karena dunia khayalku kini hanya memiliki dua penghuni. Aku dan Karin.

Kampus sudah mulai terlihat ramai. Tapi tidak seramai hatiku. Aku langsung masuk kelas dan duduk di sudut paling pojok. Aku sudah punya rencana hari ini untuk memberi kejutan manis untuk Karin, sahabat yang mulai kukasihi dengan level lebih tinggi, cinta. Aku akan duduk diam sepanjang hari ini, mengacuhkannya, menganggap dia tidak ada, dan memberi kejutan di akhir kelas hari ini.

Karin belum datang. Tiga puluh menit dari pukul delapan, dosen pun tidak kunjung tiba. Kawan-kawanku semua duduk di bangkunya masing-masing sambil sibuk dengan ponselnya masing-masing. Serempak seperti dihipnotis mereka terdiam dan menunduk. Aku bertanya ‘ada apa?’ namun tidak ada yang menjawab dan akhirnya satu per satu mereka keluar kelas. Jam sembilan kurang 15 menit aku tinggal sendiri di dalam kelas dengan segenggam cokelat. Lebih baik aku mencari Karin.

Perpustakaan, Jam Sepuluh Pagi

Karin, seorang mahasiswi yang sangat cinta buku namun tidak cupu. Kurasa dia ada disini. Perpustakaan. Aku berusaha mencarinya sendiri, tidak ingin mengirimkan sms atau meneleponnya dulu. Kejutan, bukan. Walaupun ini bukan hari istimewanya tapi hari ini aku akan mengungkapkannya. Tentang Rasa.

Satu jam, aku berkeliling menyusuri setiap sudut perpustakaan pusat. Karin tidak disini. Jadi, dimana Karin?

Aku memutuskan untuk pergi ke pendopo, bertemu sahabat-sahabat lalu kembali mencari Karin. Aku menepuk bahu Dimas, dia melihatku namun tiba-tiba langsung pergi ke toilet. Begitu pun dengan Bagus, dia menatap wajahku lama, lalu duduk di sampingku. Tidak berbicara sepatah kata pun, berbaring, lalu tiduran. Sebagian kawanku yang lain langsung pergi menuju parkir, diikuti dua sahabatku, Dimas dan Bagus. Eh, aku ditinggal? Ada apa ini? Aku berusaha mengikuti mereka menuju parkiran. Tapi motor mereka tiba-tiba berlalu dengan kencang.

Rumah, Jam Tiga Sore

Aku lelah. Aku pulang. Rumah masih sepi. Semua kosong. Kemana mereka? Keadaan rumah masih sama seperti saat kutinggal. Tapi aku tidak peduli. Dimana Karin? Aku naik ke kamarku di lantai dua lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. Aku hubungi Karin saja, itu yang terpenting. Kuhubungi Karin, ada nada sambung. Aku menunggu sambil bergerak kearah jendela. Aku melihat Karin di depan gerbang rumah sedang menatap ke arah kamarku. Dengan cepat aku membuka jendela dan setengah berteriak memanggil Karin. Namun Karin tidak menggubrisnya. Tatapan matanya kosong. Namun kurasa dia melihatku. Aku langsung berlari cepat ke lantai bawah, menuju gerbang namun Karin sudah tidak ada. Kemana Karin? Mengapa? Aku tidak dapat jawabannya.

Hari ini kurasa benar-benar aneh. Aku bingung. Baiklah lebih baik aku minum jus saja. Aku menuju dapur dan menangkap sebuah memo tertempel dengan huruf cukup besar di pintu kulkas. Rumah Sakit El-Fatra. Keluarga Fanbatin. Aku rasa mereka semua kesana. Ayah, mama, Mas Aryo.

Rumah Sakit El-Fatra, Jam Tujuh Malam

Siapa yang sakit ? Mengapa semua ada disini ? Ayah, mama, kakak, Dimas, Bagus. Itu yang pertama kutanya saat datang ke tempat ini. Tidak ada yang menjawab. Semua sibuk dengan pikiran dan kesendirian masing-masing. Aku berusaha mendekati pintu masuk kamar yang mereka sesaki. Karin. Ada Karin disana. Aku langsung mendekati Karin dan dia menangis. Mengapa begitu? Siapa yang sakit. Aku melihat dokter dan beberapa perawat menutup wajah orang itu dengan selimut putih. Dan wajah itu adalah aku. Bagaimana mungkin ??? Aku tidak punya saudara kembar kan? Siapa dia? Aku melihat namanya, Yoga Fanbatin. Itu namaku.

Semua menangis. Kulihat mama histeris. Bagus dan Dimas berangkulan, saling menguatkan. Karin menangis terduduk. Aku berusaha meyakinkan mereka semua bahwa aku masih hidup. Percuma. Benar-benar tidak ada yang mendengar. Aku meninggal ? Kenapa ?

Kulihat ayah berbicara dengan dokter. “Pendarahan di otaknya benar-benar parah dan tidak terkontrol. Benturan karena kecelakaan motor semalam benar-benar hebat. Maaf kami tidak mampu menolong anak Anda,”

Tiba-tiba tubuhku terasa ringan dan semua menghitam.


*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan FISIP USU 2009 dan Koordinator Riset Pers Mahasiswa SUARA USU 2011 Share

Menunggu Hujan Reda

(tercipta ketika tak bisa pulang karena tangisan langit)




Jangan menari begitu lincah di kepalaku
bila terjatuh, aku akan merasakan sakitnya
berhati-hatilah!
karena onak tak lagi pekat
dan otak tiada penat

Jangan berlarian di wajahku begitu lama
langit masih menangis
sementara awan teriris-iris
mari berteduh di kepala saya
menunggu hujan reda

Jangan bersiul di telinga saya
lembayung masih berwarna
hanya kehilangan rasa
mari bersiul bersama
menunggu hujan reda

Mari menunggu hujan reda
bersama-sama kita melewati samudera kecil yang terbentuk
lalu akan kuungkap satu rahasia


(Februari 2011 - Franky Febryanto Banfatin)

dapat juga dilihat di: http://suarausu-online.com/ Share

Kamis, 12 Agustus 2010

Mahasiswa, Jangan Takut Berwirausaha dengan Modal Intelektualitas!


Oleh FRANKY FEBRYANTO BANFATIN

Banyak fakta memaparkan bahwa mahasiswa, yang merupakan cikal bakal pemimpin bangsa, mayoritas masih enggan untuk berwirausaha. Melakukan aktivitas atau kegiatan yang menghasilkan nilai lebih berupa keuntungan dengan berani dan mandiri.
            Secara kasat mata, hal ini dapat dilihat dari minta mahasiswa berwirausaha baik di lingkungan kampus atau lingkungan tempat tinggalnya. Ya, kalaupuin ada, perbandingannya belum melebihi batas equilibrium. Bila mencapai level 50:50 saja, ini sudah dapat dikatakan prestasi besar walaupun sifatnya sporadis.
            Desakan keadaan ekonomi yang terlalu menghimpit ditambah hasrat akan pencapaian kesejahteraan masa depan dengan cara aman dirasakan menjadi salah satu factor pembentuk pola pikir ‘pegawai’ bagi sebagian besar mahasiswa di negeri ini. Pola piker yang cenderung konservatif dan mewabah. Lihat saja para ‘sarjana muda’ ataupun ‘sarjana tua’ yang dengan bangganya turut berbondong-bondong mengantri ribuan panjangnya untuk melamar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) setiap kali penerimaan pegawai pada instansi pemerintahan dibuka. Pun terjadi pada perusahaan swasta. Inilah yang saya maksud dengan pola piker ‘pegawai’. Polanya standar, kerjaannya relative jelas (walaupun yang tidak jelas sering dipaksa agar terlihat jelas), lebih terjamin dari segi financial karena ada jaminan hingga tua bagi PNS dan gaji yang relative besar bagi pegawai swasta perusahaan besar maupun asing. Sedikit banyak aroma piker ini mungkin juga sudah dibumbui oleh pemikiran orang tua yang sudah merasakan asam garam atau pahit kehidupan untuk olahan jenjang masa depan si anak. Lebih baik cari jalan aman, cari kerja yang pasti-pasti saja, pikir mereka.
            Realitanya, menjadi pegawai itu sah-sah saja dan tidak salah. Namun, fenomena daya tampung tenaga kerja di Indonesia ini ibaratnya seperti mengambil air laut dalam sekali gayung. Orang-orang di dalam gayung itulah yang akhirnya mendengar kalimat “Selamat, Anda Terpilih! Silahkan bekerja”, sisanya mendapat kartu bertuliskan “Maaf, Anda belum beruntung” atau “Coba lagi!”. Mereka pun akhirnya menambah keanggotaan sekelompok masal dengan label pengangguran. Kalau sudah begini lantas siapa yang salah? Pemerintah yang seharusnya menyediakan lapangan kerja yang cukup untuk rakyatnya atau rakyatnya yang memang kurang kreatif untuk lepas dari belenggu antrian ‘menagih hak kerja’ dan mencari solusi mencari jalan lain?



            Keinginan mahasiswa yang kelak ingin bekerja menjadi pegawai sedikit banyak telah mencitrakan sikap calon penerus bangsa yang kurang kreatif, inovatif, pro aktif, dan belum berani mengambil risiko. Bagi yang sudah memiliki kecerdasan tujuan hidup yang jelas, motivasi kuat, keinginan serta tekad besar untuk merintis dari awal, pilihan menjadi pegawai tidak menjadi soal karena sudah memiliki modal kuat untuk melangkah maju menjadi seorang kepala pemerintahan atau perusahaan ke depannya. Bagi yang masih keblinger, ragu-ragu, mengambang, atau bahkan tidak tahu arah tujuan sama sekali, mungkin berwirausaha dapat menjadi pilihan.
            Mahasiswa memang belum cukup identik dengan wirausaha namun beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia yang bekerja sama dengan pemerintah sudah banyak yeng menyuntikkan mata kuliah kewirausahaan dan usaha kecil menengah pada beberapa fakultasnya. Hal ini dirasa cukup penting sebagai modal anti pengangguran. Satu hal yang menggembirakan adalah bahwa pemerintah telah berupaya meningkatkan kapasitas wirausaha mahasiswa dengan membentuk 300 pusat kewirausahaan mahasiswa pada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pusat kewirausahaan mahasiswa tersebut akan dibangun di seluruh perguruan tinggi negeri dan sekitar 120 perguruan tinggi swasta di Indonesia. Bahkan sudah banyak kegiatan universitas yang mendanai program wirausaha mahasiswa begitupun perusahaan-perusahaan swasta. Secercah harapan.
            Berwirausaha berarti siap mengambil risiko dengan apapun yang terjadi dan berani tampil beda. Stereotip, mahasiswa menyayangkan ilmu yang mereka dapat di bangku kuliah tidak akan berguna atau terpakai apabila berwirausaha. Ini tentu saja tidak benar karena modal intelektual yang kita dapatkan di bangku kuliah itulah yang justru dapat kita olah, kelola dan jual dalam berwirausaha. Wirausaha tidak harus berbentuk barang tetapi bisa juga berupa jasa konsultasi atau wirausaha sosial. Apapun bentuknya intinya tetap kreativitas dan pengelolaan modal intelektualitas.
            Seakan telah dikeraskan pemikiran, kita cenderung mengatakan bahwa mahasiswa kuliah untuk lulus mendapat ijazah lalu bekerja. Benar, kuliah memang persiapan dunia kerja. Namun, tidak salah juga apabila kita sudah mulai bekerja saat kuliah. Berwirausaha dirasa lebih aman dibandingkan menjadi pegawai saat kuliah karena sistemnya tidak terikat dan fleksibel. Kunci suksesnya adalah kemampuan merumuskan tujuan hidup, kemampuan memotivasi diri, inisiatif diri, dan kemampuan memanajemen waktu. Jadi jangan takut berwirausaha.
            Mahasiswa sesungguhnya menuai sukses wirausaha tanpa mengabaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Misalnya, mahasiswa Ilmu Politik dengan modal intelektual politiknya dapat membuka usaha pelatihan pemikiran politik dasar bagi pelajar SMA, atau mahasiswa Ilmu Komunikasi yang dapat membuat in house training atau pelatihan jurnalistik dasar kepada pengurus klub jurnalistik SMP atau SMA di daerah seputar kampus, mahasiswa Fakultas Pertanian dapat menciptakan pupuk baru dari hasil penelitian dan dibuatkan gerai pupuk organik rakyat, atau mahasiswa Ilmu Sejarah yang dapat membuat sanggar histori nasional bagi kaum muda, dan wirausaha lain yang dapat diciptakan secara kreatif sesuai modal keilmuan masing-masing mahasiswa.
            Sebagai mahasiswa yang dicap sebagai agen perubahan, kegiatan wirausaha dapat kita jadikan sebagai akses implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Yang terakhir ini secara langsung dapat kita terapkan karena kita selaku mahasiswa sudah dapat mencipta lapangan pekerjaan yang otomatis mengurangi jumlah pengangguran. Dengan keilmuan yang kita pelajari itu sudah cukup menjadi modal awal wirausaha selain motivasi dan kreatifitas. Istilahnya learning by doing (mempelajari sambil mempraktekannya). Harus ada kegigihan dan keseriusan untuk belajar dan berusaha. Mencari ilmu di luar kampus sebanyak mungkin pun sangat penting. Jangan sampai yang kita kelola menjadi wirausaha bahaya atau malpraktik.***

FRANKY FEBRYANTO BANFATIN
Mahasiswa Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial,FISIP-Universitas Sumatera Utara, Medan
Staf Litbang Pers Mahasiswa Suara USU
Share

Amir Zebua: Mengeluh itu Virus

Siang itu Kota Medan benar-benar menebar hawa panas yang terpancar dari teriknya sang surya. Pencapaian suhu mencapai titik 32 derajat celcius. Butir-butir keringat keluar dari setiap pori kulit yang menganga kepanasan. Teman saya mengeluh tak henti-henti sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kertas selebaran. Pun saya sekali dua kali terkena ‘virus aksi’ serupa. Mengeluarkan umpatan-umpatan kejengkelan terhadap sebuah energi yang tak pantas disalahkan sambil duduk di atas kursi becak bermotor dalam perjalanan menuju sebuah kantor pemerintahan.

Sesekali saya mengamati abang penarik becak yang kami tumpangi sambil memperhatikan jalan. Tampak masih muda, berusia sekitar 20-an tahun dengan kulit cokelat terbakar, mata sipit, dan rambut hitam tebal.

“Kepanasan ya, Bang?” tanyanya sambil tersenyum seperti menyadari karena diperhatikan. “Pasti jarang naik becak?” Lanjutnya seperti bisa membaca pikiran saya.

“Iya Bang. Maklumlah,” jawab teman saya, enteng namun terkesan sedikit arogan.

“Nikmati saja Bang, jangan merepet (ngomel) terus. Lihat dong saya, senyum terus. Adik saya bilang, mengeluh itu virus. Penyakitnya bikin kita jadi tidak bisa merasa bahagia.” Kalimat itu diucapkan begitu saja, sangat polos. Namun hati nurani saya terketuk dan membuat saya tiba-tiba ingin memaknainya dengan bertanya lebih jauh dan memulai obrolan.

Adik, Sumber Semangat


Sesungguhnya banyak cerita bermakna yang diangkat dari seorang pemuda bernama Amir Zebua. Dialah sosok inspiratif yang tidak sengaja saya temui di jalan. Pemuda kelahiran Teluk Dalam, 22 Mei 1987 ini sudah bekerja menarik becak sejak tahun 2006 di kota bika ambon ini. Keadaan yatim piatu dan kecintaannya terhadap adik tunggalnya yang membuat dia rela tidak menamatkan pendidikan lanjutannya.

“Saya rela bekerja dan tidak sekolah asalkan adik saya tetap sekolah karena dia lebih pintar dari saya,” ungkap Amir.

Pendapatan harian yang rata-rata kurang dari 60 ribu mampu membuat kehidupan Amir dan adiknya tetap bertahan mencapai mimpinya. Dan adiknya adalah satu-satunya harapan dan kebanggaannya.

“Keluarga kami di Nias Selatan sebenarnya masih ada, namun karena ada masalah mereka seperti menganggap kami bukan saudara lagi. Sejak itulah kami pindah ke Medan,” tuturnya masih dengan senyum yang polos walau tampak miris.

Setiap perjuangan pasti memiliki proses dan perjuangan di dalamnya. Begitu pun yang dialami Amir. Diakuinya, suatu hari dia pernah merasa frustasi, terus-terusan mengeluh, stres bahkan nekat mencuri untuk mendapatkan uang dengan cepat. Namun, sang adik yang tegar dan selalu memberi perhatian memberinya nasehat agar tidak bertindak gegabah.

“Saya begini karena dia. Dia selalu senyum dan bilang kalau mau berusaha kami pasti bisa,” ungkapnya. “Dia juga yang selalu bilang untuk jangan selalu mengeluh. Mengeluh itu virus. Bikin kita tidak menghargai hidup dan jadi penyakit tidak bahagia karena hidup itu seperti beban berat rasanya.”

Saya dan teman-teman saya yang masih menikmati kendaraannya langsung berhenti mengeluh dan saling pandang kemudian tersenyum. Entah mengapa hawa panas yang kami rasakan tiba-tiba berasa segar.

Sebelum sampai tempat tujuan, abang becak yang setiap pagi juga menjadi kurir angkat sebuah toko ini juga berkata, “Sebenarnya, kalau semua hal kita syukuri pasti ada hikmahnya. Stop untuk mengeluh, nikmati setiap kehidupan, lakukan yang benar, pasti kita bahagia.”

Becak pun berhenti tepat di depan gedung yang kami tuju, setelah membayar saya pun menanyakan dimana adikknya kini bersekolah. Dia menjawab sambil tersenyum bahagia penuh kebanggaan. “Akuntansi USU.” (Franky Febryanto Banfatin)

tulisan ini juga dapat dibaca di http://suarausu-online.com Share

Selasa, 06 April 2010

Sepatu Putih

Akhirnya, hari ini saya sampai di Medan juga setelah sejenak kwartet hari merasa termanjakan dengan kebebasan hari. Lari dari rutinitas namun tidak lari dari kenyataan. Saya merasa terbuai dengan sajian kasih dan untaian sayang dari beberapa orang yang benar-benar mengerti saya kala terjatuh. Mereka adalah orang-orang hebat yang sering terjatuh namun dapat tetap bangkit mencengkram hari. Untuk menguatkan langkah kaki, mereka memberikanku sepatu baru.

Sepatu baru putih yang sejak kala putih abu saya idamkan akhirnya terwujud nyata dan terasa di sepasang kaki saya yang ukurannya ya, cukup 41 saja. Entah mengapa memakainya seperti melayang. Sejuk. Mungkinkah ini efek dari seonggok harap yang terwujud. Dulu, saya sebenarnya bisa memiliki dan memakainya dan menjadikannya sebagai sahabat kaki. Tapi, entah mengapa dulu perasaan saya berkata lain. Saya benci putih namun saya menginginkannya. Kontradiksi bukan? Hingga kini saya masih merasa seperti itu. Dulu, rasa saya yang bermain dengan permainan tanpa wujud itu. Kini, rasa itu tiada namun kian ada. Terpatri. Masih.

Memulai langkah bersamanya membuat saya merasa baru. Baru dalam melangkah berarti baru dalam bertindak dan semangat menggapai asa. Ada efek psikologis didalamnya. Bukan efek mistis. Kawan-kawan pun melihat sahabat baru saya ini. Hm, saya merasa bangga akan hal ini. Namun, hm... biasa saja memang, tapi saya senang melangkah bersama sepatu putih ini.

Mungkin tulisan ini adalah seonggok euforia dari sebuah kebaruan. Namun saya percaya langkah yang nyaman akan membawa kepada kedamaian pencapaian tujuan dan harapan. Tidak bermaksud menyombong. Ini hanya sebuah filosofis. Mari melangkah, sepatu putih!

Share

Rabu, 17 Maret 2010

The Class, The Flash, The Social Welfare

Ternyata jadi ketua kelas jurusan di dalam satu fakultas itu tidak mudah. Sungguh berbeda dengan apa yang pernah saya rasakan kala masih di SMP maupun SMA. Luar biasa melelahkan memang namun entah mengapa saya menyenanginya.

Saya adalah tipikal orang yang sangat menyukai keberagaman dan perbedaan. Menurut saya berbeda itu unik. Unik itu sebuah keindahan. Dan keindahan itu anugerah. Saya merasa beruntung dapat mengenal banyak orang dengan karakter yang berbeda, dari beragam latar belakang budaya yang berbeda. Beautifuly Chaos, i mean! Saya senang ketika mereka bercerita tentang diri mereka, terlebih mengenai kepribadian mereka, dan tentu saja tentang budaya mereka. Yang paling saya senangi adalah bila mereka berbicara dengan logat daerah mereka. Sungguh luar biasa, saya menyukainya. Entah itu logat batak, melayu, jawa, aceh, nias, simalungun, pak-pak, hingga minang. Love it !

Itu hanya sedikit hal-hal menyenangkan ketika saya menjadi ketua kelas. Namun tidak sedikit juga hal-hal yang terkadang ingin membuat saya menyerah menjadi ketua kelas setelah menjadi sahabat dan kawan berjalan seiring mereka selama dua semester ini.



Saya takut bila kelas ini pecah dan berkubu-kubu. Saya ingin kelas ini menyatu karena keberagaman itu yang membuat kita satu untuk maju. Hey, berbeda itu indah loh kawan. Sulit memang. Namun saya akan berusaha untuk membuat kami bersatu sebagai calon-calon pembaharu bangsa, social worker dalam kancah nasional dan internasional dalam teori kekhususannya.

Saya juga takut apabila salah satu di antara kami (mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial) masih banyak yang belum mengerti tentang apa arti kessos itu sebenarnya. Bagaimana kami memposisikan diri sebagai seorang pekerja sosial mulai sekarang dan bagaimana kami sebagai pembaharu sosial akan berjuang ke depannya dengan ilmu terapan yang sangat mulia dengan tujuan untuk menolong orang lain tanpa pembedaan. Saya cukup terbuka untuk berbagi dengan mereka, dan itu sudah mulai saya lakukan. Bukan berarti saya merasa paling pintar dari mereka namun saya selalu berusaha berjalan beriringan dengan mereka untuk mencari jawaban akan banyaknya pertanyaan sebagai seorang pekerja sosial.



Saya juga terkadang takut apabila di antara kami ada yang merasa tersingkirkan dari pergaulan dan merasa pesimis dengan hidupnya. Pernah ada beberapa orang yang seperti itu. Dengan beberapa teori pendekatan psikologi yang kami pelajari sedikit demi sedikit kami dapat merubah mindset stereotype kami menjadi lebih optimis. Dan ternyata kami bisa. Sekarang saya pun sedang berpikir bagaimana membuka pemahaman kawan-kawan tentang apa itu mahasiswa dan kessos.

Yang saya tahu kami sudah mulai terbuka satu sama lain, kami sudah mulai paham apa itu kebersamaan, dan sudah mulai paham bahwa ilmu yang kami dapatkan ini nantinya akan diterapkan pada masyarakat. Bahkan ada yang sudah mengimplikasikan ilmunya di dalam kelas terhadap sebagian penghuni dari total 69 orang mahasiswa.

Menjadi seorang pekerja sosial tidak harus menunggu ijazah dan wisuda dulu kawan, dari sekarang pun kami buktikan bahwa kami bisa. Really proud of us "Kessoser" ! Bukan hanya teori tapi tindakan nyata sebagai pembaharu yang diperlukan! Mari berjalan bersama!


ditulis dalam basa-basi kesos koridor ...
Share

Senin, 15 Maret 2010

Perikemanusiaan itu Perikehewanan?


Banyak yang mengatakan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang berperikemanusiaan. Menggunakan hati nurani dan melakukan segala hal dengan hati. Setidaknya, dengan berperilaku seperti itu kita sebagai manusia akan dinilai sebagai manusia yang bijak dan sudah melakukan hal yang benar. Apa benar? Baik memang baik. Tapi bersikap baik karena diharuskan berperikemanusiaan karena tuntutan status dan takut dinilai yang negatif oleh lingkungan juga tidak benar-benar baik. Berperikemanusiaan itu harusnya sesuai kata hati bukan karena ingin dicap baik. Tapi realitanya, banyak loh orang yang bersikap baik hanya karena ketika dilihat atau sedang banyak orang. Ketika dia sendiri atau tidak ada orang, bersikap baik atau tidak baik bukanlah masalah besar. Tinggal pilih mau melakukan apa, selanjutnya terserah dan tinggal dinikmati.



Arti berperikemanusiaan itu sendiri artinya kita bertingkah laku atau berbuat dengan memperhatikan harkat dan martabat manusia dengan sejajar. Saling mengasihi, menghargai, serta menghormati satu sama lain tanpa syarat. Namun apa bila kita pertanyakan kembali apakah makna dari perikemanusiaan itu hanya berlaku bagi dan untuk manusia saja. Bagaimana dengan tindakan kita terhadap hewan? Apabila kita berbuat baik dengan menyayangi hewan apakah itu berarti kita berperikemanusiaan? Megapa kita tidak menyebutnya perikehewanan saja, toh banyak sekarang manusia yang juga berperilaku seperti layaknya hewan. Mungkin saya lebih mengkhususkan terhadap perilaku hewan yang buas walaupun yang berperilaku jinak pun tetap akan disebut hewan. Saya akui saja, terkadang saya pun bertingkah laku sebagaimana layaknya hewan.



Berbicara mengenai hewan saya akan berbicara mengenai keluarga kucing di asrama saya. Awal bulan maret ini seekor kucing yang kami beri nama Manohara melahirkan dua orang anak. Tapi ada yang aneh, Manohara ini berwarna abu-abu kusam, akan tetapi sepasang anaknya memiliki warna tubuh yang sangat kontras satu sama lain. Yang satu berwarna kuning belang sementara yang lain berwarna putih garis hitam. Entah, kami satu asrama pun bingung, siapalah suami si Manohara yang juga merupakan ayah dari kedua anak kucing tersebut. Misterius. Inilah akibat pergaulan bebas para binatang.

Selama dua minggu, kedua anak kucing itu menyemarakkan asrama kami dengan meongan nyaring mereka yang selalu tidak ingin jauh dari induknya. Penghuni lantai satu, dua, dan tiga pun cepat akrab dengan penghuni baru asrama kami tersebut. And we called them, si putih dan si kuning. Si putih agak pasif, si kuninglah yang paling aktif, paling centil, dan hobi hilir mudik kesana-kemari.

Namun, suatu hari kami kaget melihat perbedaan dari tubuh si kuning nan aktif tersebut. Dia berjalan dengan susah payah sambil menyeret kedua kaki belakangnya. Ibunya, si Manohara, mendorongnya dari belakang. Saya yang sore itu baru saja pulang dari kampus sempat terhenyak ketika menyadari bahwa sepasang kaki bagian belakang si kuning sudah patah dalam. Saya merinding dan seketika iba. Pantas saja selama beberapa hari ini aku jarang mendengar suara meow si kuning dan kerap melihat si putih hanya bermain solo. Saya tergerak untuk mengangkat si kuning, dan benar saja. Sepasang kaki belakangnya benar-benar sudah patah dan membengkok, secara alamiah sudah tidak dapat lagi dipakai untuk berjalan. Pantaslah dia berjalan dengan menyeret badannya menggunakan kedua kaki bagian depannya. Saya dapat dengan jelas menyimpulkan bahwa kakinya patah karena tidak sengaja terinjak oleh seseorang. Tapi sepertinya dari jenis tekukannya yang kuat, terlihat dengan jelas bahwa tekanan terhadap tubuh si kuning kecil ini seperti disengaja atau justru diawali dengan ketidaksengajaan yang kemudian karena tanggung lalu disengajakan. Jahat sekali sang pelaku ini. Dia mungkin mengaku berperikemanusiaan tapi ini jahat dan sama sekali tidak berperikehewanan.

Cinta itu jangan hanya terhadap manusia, cintailah juga makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan karena mereka pun memiliki hak hidup walaupun undang-undang yang mengaturnya kurang jelas dan terlampau bersifat khusus pada beberapa hal saja. Tapi, jangan begini juga jadinya, sengaja menghancurkan atau menyakiti hanya karena mereka bukan manusia. Kalau memang makhluk lain sengaja dimusnahkan demi kebaikan bersama sih tidak masalah karena di kitab pun dijelaskan bahwa yang berkuasa atas hewan dan tumbuhan di bumi ini adalah manusia. Tapi, kan itu dilakukan demi kebaikan oleh pemanfaatan manusia. Namun, bila tindakan tidak etis tersebut dilakukan karena unsur kesenangan diri dan tidak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik jangan.



Mungkin berperikemanusiaan saja tidak cukup, bagaimana kalau kita bentuk perikehewanan. Atau periketumbuhan. Haha, saya sepertinya sudah mulai eror karena emosi yang berlebihan akan terlukanya si kuning kecil. Namun satu hal yang saya yakini dengan pasti bahwa yang namanya perikemanusiaan yang sangat diangungkan itu hanya sebuah formalitas yang dapat menjadi kedok bagi manusia untuk berbuat sok baik atau benar-benar baik. Saya lebih nyaman mengatakan saya berperiketuhanan karena saya percaya apabila kita benar-benar sudah memahami serta mengaplikasikan prinsip-prinsip moral berperiketuhanan  saya akan lebih bijak memperlakukan dunia beserta segala makhluk ataupun materi yang terdapat di dalamnya.
Share